21 Agu 2014

Kepercayaan Didunia Sebelum Datangnya Islam BY FACHRI ALFARIZI

1

1.  Seluruh Kepercayaan didunia sebelum datang/masuknya Islam

a.         Kepercayaan Animisme (Benda yang dipercaya terdapat rohnya)
b.         Percaya terhadap Al-Uzza : di hubungkan dengan planet Venus
c.         Percaya terhadap Dzu Khalashah dewa-dewa :
d.         Percaya terhadap Allat : Matahari atau Bulan
e.         Mempercayai berhala bernama Manat
f.          Mempercayai Yaghuts : dewa penolong
g.         Mempercayai berhala bernama Isaf dan Nailah : depan pintu Ka’bah
h.         Mempercayai Ya’uq
i.          Mempercayai Nasr
j.          Agama Sunda Wiwitan
k.         Agama Cigugur
l.          Agama Buhun
m.        Agama Kejawen
n.         Agama Parmalim
o.         Agama Kaharingan
p.         Agama Tonaas Walian
q.         Agama Tolottang
r.          Agama Aluk Todolo
s.         Agama Wetu Telu
t.          Agama Naurus
u.         Agama Hindu Bali atau Hindu Dharma
v.         Agama Marapu


2. Suku atau bangsa apa saja yang menganut kepercayaan tersebut

a.         Kaum Watsani
b.         Kaum Quraisy
c.         Kaum Kats’am, Bujailahzd As-Surat dan orang-orang Hawazim
d.         Bangsa Thaif
e.         Bangsa Arab
f.          Suku Murad
g.         Bangsa Arab
h.         Suku Hamdan
i.          Suku Himyar
j.          Masyarakat Sunda di Kanekes, Lebak, Banten
k.         Daerah Cigugur, Kuningan, Jawa Barat
l.          Suku di Jawa Barat
m.        Suku di Jawa Tengah dan Jawa Timur
n.         Suku Batak asli
o.         Suku di Kalimantan
p.         Suku di Minahasa, Sulut
q.         Suku di Sulawesi Selatan
r.          Suku orang Toraja
s.         Suku di Lombok
t.          Suku di Pulau Seram, Maluku
u.         Suku di Bali
v.         Suku di Sumba

KETERANGAN (dari mana dapat yang diatas)

Dari a sampai i

Masyarakat Arab lama (sebelum Islam) memiliki keyakinan Animisme, ialah sebuah faham yang beranggapan bahwa setiap benda mempunyai roh, dan roh tersebut memiliki kekuatan ghaib yang disebut Mana dan dikenal sebagai “Kaum Watsani” yaitu kaum yang mempersonifikasikan Tuhan mereka dalam bentuk patung-patung sembahan yang mereka anggap sebagai perantara dengan Tuhan. Mereka percaya akan Tuhan Yang Esa. Namun mereka juga meyakini adanya roh-roh penguasa yang di anggap dan diperlakukan sebagai Tuhan. Berbeda dengan Islam yang mengajarkan untuk meng-Esakan Allah dan hanya kepada-Nya beribadah tanpa perantara apapun.
Setiap kabilah Arab lama menganut faham henotheisme yaitu masing-masing kabilah mempunyai Tuhan sebagai pelindung kabilahnya. Tuhan-tuhan kabilah tersebut yang terkenal antara lain:
§ Allat dilukiskan sebagai putri Tuhan, menurut suatu kabilah Allat itu adalah matahari dan menurut sebagian yang lain Allat itu adalah bulan, berhala ini terletak di kota Thaif, dan sekarang posisinya terletak di sebelah kiri menara mesid at-Thaif.
§ Al-Uzza dilukiskan sebagai putri Tuhan kedua yang dihubungkan dengan planet Venus, berhala ini terdapat di sebelah kanan jalan dari Makkah menuju Irak, dan merupakan berhala yang paling besar dikalangan kaum Quraisy.
§ Manat dilukiskan sebagai putri ketiga mewakili takdir, berhala ini merupakan berhala bangsa Arab yang paling tua, dan berhala ini terletak di tepi pantai wilayah al-Musyallal di Qudaid, sebuah tempat antara Makkah dan Madinah.
§ Dzu Khalashah dewa-dewa yang mengambil nama tempat pemujaan dan terletak di Tubalah antara Makkah dan Yaman berhala ini sangat diagungkan oleh Kats’am, Bujailahzd As-Surat dan orang-orang Hawazim yang tinggal disekitar mereka.
§ Dzu Khaffain dan Dzu Al Rijl dikaitkan dengan organ tumbuh penting.
§ Wudd dikaitkan dengan dewa percintaan, berhala ini di buat oleh Kalb di Daumatul Jandal.
§ Yaghuts sebagai dewa penolong dan dibuat oleh penduduk Madzhij dan penduduk Jurasy.
§ Ya’ uq sebagai dewa penjaga dan dibuat oleh kabilah Hamdan di desa Khaiwan, dekat kota Shan’a.
§ Suwa sebagai dewa penghukum.
§ Hubbal sebagai patung terbesar dan patung yang paling menonjol bagi suku lain.
§ Isaf dan Nailah merupakan berhala yang ditempatkan di pintu ka’bah mesjid al-Haram.
§ Dhaizanan dua buah berhala yang dijadikan sesembahan oleh Judzaimah al-Abrasy di Hirah.
§ Uqaishir berhala milik Qudho’ah Lakham dan Amilahyang terletak di jalan utama kota Syam.
§ Al-Jasad patung ini terletak di Hadramaut. Patung ini menjadi sembahan penduduk kindah.
§ Dzusy Syara berhala ini dimiliki oleh Bani Harits bbin Mubasyir Alazadi.
§ A’im berhala ini dimiliki oleh Azd- As-Surat.
§ Nasr sebuah berhala yang terdapat di Yaman, berhala ini dibuat oleh penduduk Himyar dan mereka menyembahnya di daerah Balkha’.
Mengenai awal mula berhala ini dijelaskan oleh hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari dari sanad Ibnu Abbas, dikatakan:
“Patung-patung yang ada pada zaman Nabi Nuh AS merupakan patung-patung yang disembah pula dikalangan bangsa Arab setelah itu. Adapun Wudd adalah berhala yang disembah oleh suku Kaib di Daumatul Jandal. Suwa adalah sesembahan Hudzail. Yaghuts sesembahan suku 
Murad, kemudian berpindah ke Bani Ghatifdi di lereng bukit yang terletak di kota Saba.”
Adapun Ya’uq adalah sesembahan Suku Hamdan, Nasr sesembahn suku Himyar dan keluarga Dzi Kila’. Padahal nama-nama itu adalah nama orang-orang sholeh di zaman Nabi Nuh AS. Setelah mereka wafat, syetan membisikkan 
kaum yang sholeh supaya di buat patung-patung mereka di tempat-tempat pertemuan dan menamainya sesuai dengan nama-nama mereka. Patung-patung itu tidak di sembah sebelum orang-orang sholeh itu mati dan ilmunya telah hilang dari kalangan mereka. Dari situlah, dimulai penyembahan terhadap berhala-berhala itu.
Patung-patung yang tergantung di dinding Ka’bah jumlahnya kurang lebih mencapai 360 buah. Bulan Haji adalah tahun mereka untuk menemui Tuhan mereka bagi kabilah-kabilah yang tinggal jauh dari Ka’bah, bentuk peribadatannya adalah persembahan hewan kepada Tuhan mereka.


Dari j sampai v

Agama asli Nusantara adalah agama-agama tradisional yang telah ada sebelum agama IslamKristen KatolikKristen ProtestanHinduBuddhaKonghucu masuk ke Nusantara(Indonesia).
Mungkin banyak di kalangan masyarakat Indonesia sudah tidak lagi mengetahui bahwa sebelum agama-agama "resmi" (agama yang diakui); Islam, Kristen Katolik, Kristen Protestan, Hindu dan Buddha, kemudian kini Konghucu, masuk ke Nusantara atau Indonesia, di setiap daerah telah ada agama-agama atau kepercayaan asli, seperti:
1.   Sunda Wiwitan yang dipeluk oleh masyarakat Sunda di KanekesLebakBanten
2.   Sunda Wiwitan aliran Madrais, juga dikenal sebagai agama Cigugur (dan ada beberapa penamaan lain) di Cigugur, KuninganJawa Barat
3.   Buhun di Jawa Barat
4.   Kejawen di Jawa Tengah dan Jawa Timur
5.   Parmalim, agama asli Batak
6.   Kaharingan di Kalimantan
7.   Tonaas Walian di MinahasaSulawesi Utara
8.   Tolottang di Sulawesi Selatan
9.   Aluk Todolo agama asli orang Toraja (Tana TorajaToraja Utara, dan Mamasa)
10. Wetu Telu di Lombok
11. Naurus di Pulau Seram, Provinsi Maluku
Negara Republik Indonesia mendegradasi agama-agama asli tersebut sebagai ajaran animisme atau hanya sebagai aliran kepercayaan.
Hingga kini, tak satu pun agama-agama dan kepercayaan asli Nusantara yang diakui di Republik Indonesia sebagai agama dengan hak-hak untuk dicantumkan di KTP, Akta Kelahiran, pencatatan perkawinan di Kantor Catatan Sipil ,dsb. Seiring dengan berjalannya waktu dan zaman, Agama Asli Nusantara semakin punah dan menghilang, kalaupun ada yang menganutnya, biasanya berada didaerah pedalaman seperti contohnya pedalaman Sumatera dan pedalaman Irian Jaya.
Di Indonesia, aliran kepercayaan yang paling banyak penganutnya adalah Agama Buhun. Data yang terekam oleh peneliti Abdul Rozak, penulis Teologi Kebatinan Sunda, menunjukkan jumlah pemeluk agama ini 100 ribu orang. Jika angka ini benar, Agama Buhun jelas salah satu aliran kepercayaan terbesar di Indonesia, yaitu 25 persen dari seluruh penghayat aliran kepercayaan. Data Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata tahun 2003 mengungkapkan, dari 245 aliran kepercayaan yang terdaftar, sementara keseluruhan penghayat mencapai 400 ribu jiwa lebih. 


3. Keadaan Sosial dan Budaya sebelum Masuknya Islam

---- DI NUSANTARA ----

Sebelum Islam masuk ke bumi Nusantara, sudah terdapat banyak suku bangsa, organisasi pemerintahan, struktur ekonomi, sosial dan budaya di Nusantara yang berkembang. Semua itu tidak terlepas dari pengaruh sebelumnya, yaitu kebudayaan nenek moyang (animisme dan dinamisme), dan Hindu Budha yang berkembang lebih dulu dari pada Islam.
Perlu diketahui bahwa kelompok-kelompok masyarakat, terutama dipusat-pusat kerajaan, biasanya memiliki perkampungan sendiri.  Karenanya, sering kita jumpai istilah-istilah seperti pecinan (perkampungan cina), pakojan (perkampungan orang Arab, yang semula milik orang India), pekauman (perkampungan anggota kerabat pejabat keagamaan keratin), kepatihan ( perkampungan kerabat para patih) dan sebagainya.[23]
Seperti halnya kondisi masyarakat daerah pesisir pada waktu itu, bisa dikatakan lebih maju daripada daerah lainnya. Terutama pesisir daerah pelabuhan. Alasannya karena daerah pesisir ini digunakan sebagai pelabuhan dan pusat perdagangan. Penduduk pesisir terkena percampuran budaya (akulturasi) dengan pedagang asing yang singgah. Secara tidak langsung, dalam perdagangan yang dilakukan antara keduanya, mereka menjadi mengerti kebudayaan pedagang asing. Pedagang asing ini seperti pedagang dari Arab, Persia, China, India dan Eropa.[24]
Berbeda dengan daerah pedalaman yang lebih tertutup dari budaya luar. Sehingga mereka lebih condong pada kebudayaan nenek moyang mereka dan sulit menerima kebudayaan dari luar. Awalnya Islam masuk dari pesisir kemudian menuju daerah pedalaman. Masuknya Islam masih sudah terdapat kerajaan-kerajaan bercorak Hindu Budha yang masih eksis, diantaranya adalah kerajaan Majapahit dan kerajaan Sriwijaya. Selain itu terdapat kerajaan-kerajaan kecil yang tidak tersentuh oleh pengaruh Hindu dari India. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi misalnya Gowa, Wajo, Bone dan lainnya. Kerajaan-kerajaan di Sulawesi tidak menunjukkan adanya pengaruh Hindu. Contohnya dalam penguburan pada masyarakat Gowa masih berdasarkan tradisi nenek moyang, yaitu dilengkapi dengan bekal kubur.[25]
Hindu Budha lebih dulu masuk di Nusantara daripada Islam. Islam masuk ke Nusantara bisa dengan mudah dan lebih mudah diterima masyarakat pada waktu itu dengan berbagai alasan. [26]
 Pertama, situasi politik dan ekonomi kerajaan Hindu, Sriwijaya dan Majapahit yang mengalami kemunduran. Hal ini juga disebabkan karena perluasan China di Asia Tenggara, termasuk Nusantara. Akibat dari kemunduran situasi politik. adipati-adipati pesisir yang melakukan perdagangan dengan pedagang muslim. Dan akhirnya mereka menjadi penerima Agama Islam. Situasi politik seperti itu mempengaruhi masuknya Islam ke Nusantara lebih mudah. Karena kekacauan politik, mengakibatkan kacauan pada budaya dan tradisi masyarakat.
Kedua, kekacauan budaya ini digunakan oleh mubaligh-mubaligh dan pedagang muslim yang sudah mukim untuk menjalin hubungan yang lebih dekat. Yaitu melalui perkawinan. Akibatnya pada awal Islam di Nusantara sudah ada keturunan Arab atau India. Misalnya di Surakarta terdapat perkampungan Arab, tepatnya di para Kliwon (kampung Arab).
Setelah masuknya Islam di Nusantara, terbukti budaya dan ajaran Islam mulai berkembang. Hal ini tidak bisa terlepas dari peran Mubaligh-mubaligh dan peran Walisongo di Jawa. Bukti bahwa ajaran Islam sudah dikerjakan masyarakat Nusantara. Di kota-kota besar dan kecil yang sudah Islam, terdapat bangunan-banguna masjid yang digunakan untuk berjamaah. Hal itu merupakan bukti budaya yang telah berkembang di nusantara.Kesejahteraan dan kedamaian tersebut dimantapkan secara sosio-religius dengan ikatan perkawinan yang membuat tradisi Islam Timur Tengah menyatu dengan tradisi Nusantara atau Jawa.
Setelah Majapahit runtuh daerah-daerah pantai seperti Tuban, Gresik, Panarukan, Demak, Pati, Yuwana, Jepara, dan Kudus mendeklarasikan kemerdekaannya kemudian semakin bertambah kokoh dan makmur. Dengan basis pesantren daerah-daerah pesisir ini kemudian mendaulat Raden Fatah yang diakui sebagai putra keturunan Raja Majapahit menjadi sultan kesultanan Demak yang pertama. Demak sebagai “simbol kekuatan politik” hasil akulturasi budaya lokal dan Islam menunjukkan dari perkawinan antara pedagang Muslim dengan masyarakat lokal sekaligus melanjutkan “warisan” kerajaan Majapahit yang dibangun di atas tradisi budaya Hindu-Budha yang kuat sehingga peradaban yang berkembang terasa bau mistik dan mendapat tempat yang penting dalam kehidupan keagamaan Islam Jawa sejak abad ke 15 dan 16.[27]
Selanjutnya para dai agama Islam lebih menekankan kegiatan dakwahnya dalam lingkungan masyarakat pedesaan, terutama daerah pesisiran dan diterima secara penuh oleh masyarakat pedesaan sebagai peningkatan budaya intelektual mereka. Dalam kerja sosial dan dakwahnya, para Wali Songo juga merespon cukup kuat terhadap sikap akomodatif terhadap budaya tersebut. Di antara mereka yang sering disebut adalah Sunan Kalijaga.[28]
Jawa sebagai negeri pertanian yang amat produktif, damai, dan tenang. Sikap akomodatif yang dilakukan oleh para dai ini melahirkan kedamaian dan pada gilirannya menumbuhkan simpati bagi masyarakat Jawa. Selain karena proses akulturasi budaya akomodatif tersebut, menurut Ibnu Kholdun, juga karena kondisi geografis seperti kesuburan dan iklim atau cuaca yang sejuk dan nyaman yang berpengaruh juga terhadap perilaku penduduknya. Pandangan serupa juga dikemukakan oleh Syahrastani, dalam al-Milal wa al-Nihal yang menyebutkan ada pengaruh posisi atau letak geografis dan suku bangsa terhadap pembentukan watak atau karakter penduduknya.[29]
Akulturasi dan adaptasi keislaman orang Jawa yang didominasi keyakinan campuran mistik konsep Hindu-Budha disebut kejawen atau juga dinamakan agama Jawi. Sementara penyebaran Islam melalui pondok pesantren khususnya di daerah pesisir Utara belum mampu menghilangkan semua unsur mistik sehingga tradisi Islam kejawen tersebut masih bertahan. Pemeluk kejawen dalam melakukan berbagai aktivitasnya dipengaruhi oleh keyakinan, konsep pandangan, dan nilai-nilai budaya yang berbeda dengan para santri yang mengenyam pendidikan Islam lebih murni.[30]
Jadi, agama Islam sebagai suatu norma, aturan, maupun segenap aktivitas masyarakat Indonesia, ajaran Islam telah menjadi pedoman masyarakat. Dalam hal inilah Islam sebagai agama sekaligus menjadi budaya masyarakat Indonesia. Di satu sisi berbagai budaya local yang ada di masyarakat, tidak secara otomatis hilang dengan adanya Islam. Budaya-budaya local ini sebagian terus dikembangkan dengan mendapat warna-warna Islam. Perkembangan ini kemudian melahirkan “akulturasi budaya”, antara budaya local dan Islam.
Dalam bidang seni, juga dijumpai proses akulturasi seperti dalam kesenian wayang di Jawa. Wayang merupakan kesenian tradisional suku Jawa yang berasal dari agama Hindu India. Proses Islamisasi tidak menghapuskan kesenian ini, melainkan justru memperkayanya, yaitu memberikan warna nilai-nilai Islam di dalamnya.tidak hanya dalam bidang seni, tetapi juga di dalam bidang-bidang lain di dalam masyarakat Jawa.[31]
Dengan kata lain kedatangan Islam di nusantara dalam taraf-taraf tertentu memberikan andil yang cukup besar dalam pengembangan budaya local.
Pada sisi lain, secara fisik akulturasi budaya yang bersifat material dapat dilihat misalnya: bentuk masjid Agung Banten yang beratap tumpang, berbatu tebal, bertiang saka, dan sebagainya benar-benar menunjukkan ciri-ciri arsitektur local. Sementara esensi Islam terletak pada “ruh” fungsi masjidnya. Demikian juga dua jenis pintu gerbang bentar dan paduraksa sebagai ambang masuk masjid di Keraton Kaibon. Namun sebaliknya, “wajah asing” pun tampak sangat jelas di kompleks Masjid Agung Banten, yakni melalui pendirian bangunan Tiamah dikaitkan dengan arsitektur buronan Portugis,Lucazs Cardeel, dan pendirian menara berbentuk mercu suar dihubungkan dengan nama seorang Cina: Cek-ban Cut.[32]
Dalam perkembangan selanjutnya sebagaimana diceritakan dalam Babad Banten, Banten kemudian berkembang menjadi sebuah kota. Kraton Banten sendiri dilengkapi dengan struktur-struktur yang mencirikan prototype kraton yang bercorak Islam di Jawa, sebagaimana di Cirebon, Yogyakarta dan Surakarta. Ibukota Kerajaan Banten dan Cirebon kemudian berperan sebagai pusat kegiatan perdagangan internasional dengan ciri-ciri metropolitan di mana penduduk kota tidak hanya terdiri dari penduduk setempat, tetapi juga terdapat perkampungan-perkampunan orang-orang asing, antara lain Pakoja, Pecinan, dan kampung untuk orang Eropa seperti Inggris, Perancis dan sebagainya.[33]
Dalam bidang kerukunan, Islam di daerah Banten pada masa lalu tetap memberikan perlakuan yang sama terhadap umat beragama lain. Para penguasa muslim di Banten misalnya telah memperlihatkan sikap toleransi yang besar kepada penganut agama lain. Misalnya dengan mengizinkan pendirian vihara dan gereja di sekitar pemukiman Cina dan Eropa. Bahkan adanya resimen non-muslim yang ikut mengawal penguasa Banten. Penghargaan atau perlakuan yang baik tanpa membeda-bedakan latar belakang agama oleh penguasa dan masyarakat Banten terhadap umat beragama lain pada masa itu, juga dapat dilisaksikan di kawasan-kawasan lain di nusantara, terutama dalam aspek perdagangan. Penguasa Islam di berbagai belahan nusantara telah menjalin hubungan dagang dengan bangsa Cina, India dan lain sebagainya sekalipun di antara mereka berbeda keyakinan.[34]
Contoh-contoh Sosial-Budaya yang mengandung Nilai-nilai Islam[35]
1.      Tepung tawar, biasa dilakukan dengan menghambur-hambur beras kepada orang yang ditepung tawari.
2.      Sungkeman. Kebiasaan ini berasal dari pulau Jawa yang umumnya dilakukan pada saat Hari Raya dan pada upacara pernikahan, tetapi kadang kala dilakukan juga setiap kali bertemu.
3.      Tabot atau Tabuik, adalah upacara tradisional masyarakat Bengkulu untuk mengenang kisah kepahlawanan dan kematian cucu Nabi Muhammad, Hasan dan Husein bin Ali bin Abi Thalib dalam peperangan dengan pasukan Ubaidillah bin Zaid di padang Karbala, Irak pada tanggal 10 Muharam 61 Hijriah (681 M).
4.      Tingkepan, babaran, pitonan dan pacangan. Masyarakat desa di Jawa Timur, seperti halnya di Jawa Tengah, memiliki ikatan yang berdasarkan persahabatan dan teritorial. Berbagai upacara adat yang diselenggarakan antara lain:
1.      Tingkepan, yaitu upacara usia kehamilan tujuh bulan bagi anak pertama.
2.      Babaran, yaitu upacara menjelang lahirnya bayi.
3.      Sepasaran, yaitu upacara setelah bayi berusia lima hari.
4.      Pitonan, yaitu upacara setelah bayi berusia tujuh bulan.
5.      Sunatan yaitu acara khinatan.

5. Budaya Tumpeng. Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut. Itulah sebabnya disebut “nasi tumpeng”. Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai “tumpengan”.

1 komentar:

luvne.com resepkuekeringku.com desainrumahnya.com yayasanbabysitterku.com